Perumahan yang tidak layak bagi masyarakat memiliki dampak negatif yang sangat besar. Hal ini dapat terjadi karena berbagai faktor seperti kurangnya perawatan dan pemeliharaan, serta kurangnya akses terhadap fasilitas dasar seperti air bersih dan sanitasi yang layak.
Menurut data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, masih banyak perumahan di Indonesia yang tidak memenuhi standar kelayakan. Hal ini tentu saja berdampak buruk bagi kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sana.
Salah satu dampak negatif dari perumahan tidak layak adalah masalah kesehatan. Dr. Linda Sari, seorang pakar kesehatan masyarakat, menyatakan bahwa kondisi perumahan yang tidak layak dapat meningkatkan risiko penyakit seperti diare, infeksi saluran pernapasan, dan penyakit kulit. “Kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak dapat menyebabkan penyebaran penyakit dengan cepat di lingkungan tersebut,” ujarnya.
Selain masalah kesehatan, perumahan tidak layak juga dapat berdampak negatif terhadap pendidikan anak-anak. Menurut Prof. Budi Santoso, seorang ahli pendidikan, kondisi lingkungan yang tidak mendukung seperti rumah yang tidak layak huni dapat mengganggu konsentrasi belajar anak-anak. “Anak-anak yang tinggal di perumahan tidak layak seringkali mengalami kesulitan belajar karena mereka tidak memiliki lingkungan yang kondusif untuk belajar,” jelasnya.
Untuk mengatasi dampak negatif dari perumahan tidak layak, diperlukan peran serta dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan lembaga swadaya masyarakat. Pemerintah perlu meningkatkan program perumahan yang layak bagi masyarakat kurang mampu, sedangkan masyarakat perlu turut serta dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Dengan upaya bersama, diharapkan masalah perumahan tidak layak bagi masyarakat dapat teratasi dan kesejahteraan masyarakat dapat terjamin. Sebagai masyarakat, kita juga perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya memiliki rumah yang layak huni demi kesehatan dan kesejahteraan bersama.