Degradasi lahan adalah masalah serius yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Menurut para ahli, degradasi lahan mengacu pada penurunan kualitas lahan akibat berbagai faktor seperti erosi tanah, deforestasi, dan perubahan iklim.
Salah satu dampak negatif dari degradasi lahan adalah berkurangnya produktivitas pertanian. Tanah yang terdegradasi cenderung mengalami penurunan kesuburan, sehingga hasil panen pun menjadi berkurang. Hal ini tentu berdampak pada kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada pertanian sebagai sumber penghidupan utama.
Menurut Prof. Budi Indra Setiawan, seorang pakar lingkungan dari Universitas Indonesia, “Degradasi lahan merupakan ancaman serius bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. Kita perlu melakukan langkah-langkah konkret untuk mengatasi masalah ini, mulai dari rehabilitasi lahan hingga pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.”
Selain itu, degradasi lahan juga berdampak negatif terhadap lingkungan. Tanah yang terdegradasi cenderung menjadi lebih rentan terhadap erosi dan banjir. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Menurut Dr. Rina Agustina, seorang ahli ekologi dari IPB University, “Degradasi lahan dapat menyebabkan hilangnya habitat bagi berbagai spesies tanaman dan hewan. Hal ini berpotensi mengancam keberlanjutan lingkungan hidup dan keseimbangan ekosistem.”
Untuk mengatasi dampak negatif degradasi lahan, diperlukan kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan para ahli lingkungan. Langkah-langkah seperti penghijauan, konservasi lahan, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan perlu diimplementasikan secara komprehensif.
Dengan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lahan, diharapkan dapat tercipta lingkungan yang sehat dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat di masa depan. Sebagaimana kata Bapak Bangun, seorang petani di desa Sukamaju, “Kita harus peduli pada tanah tempat kita tinggal. Tanpa lahan yang subur, bagaimana kita bisa hidup dengan sejahtera?”